
Lenteraindonesia.id || SURABAYA – Suasana religius menyelimuti Mabes YMAS, Jalan Simorejo Timur XI Nomor 24, Surabaya, Jumat (4/9/2026) malam. Ratusan jamaah dan masyarakat berkumpul dalam Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan tawassul, istighotsah, tahlil, mahallul qiyam, sholawatan hingga tausiyah keagamaan.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.00 hingga 22.00 WIB tersebut menjadi momentum bagi jamaah untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.
Rangkaian acara diawali dengan tawassul yang dipimpin khodimul Majelis, Gus Barok. Selanjutnya, jamaah mengikuti istighotsah yang dipimpin Ustad Iksan, kemudian dilanjutkan tahlil yang dipimpin Ustad Baidi.
Suasana semakin khidmat ketika memasuki rangkaian mahallul qiyam yang diisi Ustad Yahya dan Ustad Wawan. Para jamaah berdiri bersama sembari melantunkan sholawat sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Lantunan sholawat semakin semarak dengan penampilan Group Hadrah Al-Mubarok Surabaya yang mengiringi jamaah dalam suasana penuh kekhusyukan.
Namun, salah satu rangkaian yang paling dinantikan jamaah dan jam’iyah Al-Mubarok Surabaya adalah tausiyah yang disampaikan Gus Zainal Abidin, S.Pd., M.Pd., dari Ponpes Sunan Kalijogo Surabaya.
https://vt.tiktok.com/ZSq8Q6u5d/
Dalam tausiyahnya, Gus Zainal Abidin menekankan pentingnya mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Menurutnya, ilmu tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus diwujudkan melalui amal dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyampaikan pesan tentang bahaya memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Dalam kajian yang disampaikannya, Gus Zainal mengutip bait yang masyhur dalam Kitab Zubad karya Ibnu Ruslan mengenai orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya.
Pesan tersebut, kata Gus Zainal, menjadi pengingat bahwa ilmu merupakan amanah sekaligus tanggung jawab.
Orang yang telah mengetahui mana yang benar dan salah, halal dan haram, memiliki tanggung jawab lebih besar ketika justru melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ilmu yang diketahuinya.
“Ilmu itu amanah. Karena itu, jangan sampai ilmu hanya berhenti di kepala, tetapi tidak terlihat dalam perbuatan,” pesan Gus Zainal.
Ia juga mengingatkan bahwa menuntut ilmu dan beramal merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya rajin beribadah apabila tidak memiliki dasar pengetahuan yang benar mengenai ibadah tersebut.
Dalam tausiyahnya, Gus Zainal juga mengajak jamaah memperbanyak menghadiri majelis dzikir, sholawat dan pengajian. Ia menyampaikan berbagai keutamaan majelis ilmu dan majelis dzikir sebagaimana yang menjadi bagian dari materi keagamaan yang disampaikannya kepada jamaah.
Menurut Gus Zainal, majelis pengajian bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang untuk membersihkan hati, memperdalam pengetahuan agama dan memperbaiki perilaku.
“Dengan mengaji, kita belajar memperbaiki diri. Ilmu yang dipelajari harus menjadi jalan untuk meninggalkan perbuatan keji dan dosa,” ujarnya.
Kisah Hudaibiyah dan Keteguhan Rasulullah SAW
Dalam bagian lain tausiyahnya, Gus Zainal juga mengajak jamaah mengambil hikmah dari perjalanan Rasulullah SAW, termasuk peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan umrah.
Peristiwa tersebut terjadi pada tahun keenam Hijriah. Rasulullah SAW bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat dari Madinah dengan niat melaksanakan ibadah umrah, bukan untuk berperang.
Namun, rombongan kaum Muslimin kemudian dihadang kaum Quraisy di kawasan Hudaibiyah. Rasulullah SAW dan para sahabat akhirnya tidak dapat memasuki Makkah pada tahun tersebut.
Dalam situasi tersebut, Rasulullah SAW mengutus Utsman bin Affan untuk bernegosiasi dengan pihak Quraisy. Ketika kemudian muncul kabar bahwa Utsman telah dibunuh, Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat dan terjadilah Bai’atur Ridhwan.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW. Setelah itu, dilakukan perundingan yang menghasilkan Perjanjian Hudaibiyah, yang mengharuskan kaum Muslimin kembali ke Madinah dan menunda pelaksanaan umrah hingga tahun berikutnya.
Kisah tersebut menjadi pelajaran tentang kesabaran, keteguhan, ketaatan kepada Rasulullah SAW serta pentingnya mengutamakan perdamaian dan kemaslahatan.
Gus Zainal mengajak jamaah tidak hanya membaca kisah perjalanan Rasulullah SAW, tetapi juga mengambil nilai keteladanan dan menerapkannya dalam kehidupan.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Mabes YMAS tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Tawasul, istighotsah, tahlil, mahalul qiyam, sholawatan dan tausiyah berpadu menjadi satu rangkaian yang mengajak jamaah untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meneladani akhlak Rasulullah SAW.
Kegiatan ditutup dalam suasana penuh kebersamaan. Para jamaah berharap majelis seperti ini dapat terus menjadi sarana mempererat silaturahmi, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, sekaligus menjadi pengingat bahwa ilmu agama yang dipelajari harus diwujudkan dalam amal nyata.
Sebab, sebagaimana pesan utama yang disampaikan Gus Zainal Abidin malam itu, ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan.
Editor : Red
Tidak ada komentar