Rabu, 02 Sep 2026

Ketika Manusia Merendahkan, Allah Justru Mengangkat Derajatnya

admin
2 Sep 2026 06:25
3 menit membaca

Lenteraindonesia.id || Surabaya, -Ada pelajaran menarik dari perjalanan KH. Miftachul Akhyar.

Beliau pernah dikritik. Pernah menjadi sasaran berbagai komentar yang tidak menyenangkan. Bahkan dalam dinamika organisasi, ada masa ketika posisi dan kewibawaan beliau seakan dipertanyakan.

Tetapi begitulah hidup,Kadang manusia sibuk menurunkan seseorang, sementara Allāh justru sedang menyiapkan tangga untuk mengangkatnya.

Ahad malam, 30 Agustus 2026, sembilan kiai sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) bermusyawarah di Ndalem Kasepuhan Kiai Wahab Chasbullah, Tambakberas, Jombang.

Hasilnya: KH. Miftachul Akhyar kembali dipercaya menjadi Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031.

Bukan melalui kampanye terbuka. Bukan karena paling ramai membicarakan dirinya sendiri. Para kiai sepuh bermusyawarah, lalu mufakat memilih beliau.

Bagi saya, bagian menariknya bukan sekadar siapa yang menang dan siapa yang tidak terpilih. Ada cerita panjang di belakangnya.

Jauh sebelumnya, almarhum KH. Maimun Zubair—Mbah Moen—pernah menyampaikan harapan agar Kiai Miftach menjadi Rais Aam NU. Mbah Moen bahkan mendoakan panjang umur agar beliau dapat mengemban amanah itu.

Mbah Moen wafat tahun 2019.Dua tahun kemudian, pada Muktamar NU di Lampung tahun 2021, KH. Miftachul Akhyar terpilih menjadi Rais Aam.Orang kemudian teringat doa Mbah Moen.

Lima tahun berlalu.

Pada Muktamar NU di Jombang tahun 2026, nama yang sama kembali dipilih oleh para kiai dalam AHWA.

Tentu kita tidak perlu terlalu berani memastikan rahasia takdir Allāh. Kita tidak tahu persis hubungan sebuah doa dengan peristiwa yang terjadi bertahun-tahun kemudian. Itu wilayah yang sebaiknya membuat kita tawadhu, bukan sok mengetahui rahasia langit.

Tetapi sebagai santri, rasanya sulit untuk tidak tersentuh,Sebab doa orang saleh memang bukan sesuatu yang pantas diremehkan.

Apalagi perjalanan Kiai Miftach sendiri bukan perjalanan kemarin sore,Beliau tumbuh dari pesantren. Belajar di Tambakberas, Sidogiri, Lasem, dan bersambung dengan banyak ulama. Pengabdiannya di NU juga tidak datang dengan jalan pintas: dari Rais Syuriyah PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, Wakil Rais Aam, hingga kemudian Rais Aam PBNU.

Tangga itu dinaiki satu demi satu.Tidak meloncat dari halaman langsung ke atap.

Maka terpilihnya beliau kembali sebenarnya bisa dibaca dengan dua mata sekaligus.

Dengan mata rasional, ada pengalaman, keilmuan, pengabdian panjang dan kepercayaan para kiai.

Dengan mata batin seorang santri, ada doa guru-guru yang mungkin bekerja dengan cara yang tidak kita mengerti.

Dan justru di situlah indahnya.

Kita sering terlalu sibuk menghitung kekuatan manusia: siapa mendukung siapa, kelompok mana bersama siapa, siapa dekat dengan siapa, siapa sedang naik dan siapa sedang dijatuhkan.

Seolah-olah masa depan seseorang sepenuhnya berada di meja rapat manusia.

Padahal di atas semua meja rapat itu ada kehendak Allāh,Manusia boleh tidak suka,Manusia boleh mengkritik,Bahkan manusia bisa saja mempermalukan.

Tetapi manusia tidak pernah memegang tombol terakhir untuk menentukan kemuliaan seseorang.

Karena itu kemenangan semacam ini pun sebaiknya tidak dipakai untuk menertawakan mereka yang dahulu berbeda pendapat. Jangan sampai setelah Allāh mengangkat seseorang, para pendukungnya justru sibuk merendahkan orang lain.

Itu malah kehilangan pelajarannya.

Pelajarannya bukan:

“Lihat, akhirnya kami menang.”

Melainkan:

Jangan terlalu mudah merendahkan manusia. Kita tidak pernah tahu siapa yang sedang didoakan oleh orang-orang saleh, dan kita tidak pernah tahu siapa yang sedang dipersiapkan Allāh untuk diangkat derajatnya.

Hari ini seseorang mungkin sedang dicaci,Besok orang-orang berdiri menghormatinya.

Hari ini seseorang dianggap selesai,Besok namanya kembali disebut untuk memikul amanah.

Sebab lidah manusia hanya bisa memberi komentar,Sedangkan yang menentukan akhir cerita tetap Allāh.

Dan mungkin itulah sebabnya orang tua-tua dahulu mengajari kita satu adab sederhana.

Kalau belum mampu mendoakan orang lain, setidaknya jangan terlalu bersemangat merendahkannya.

Takut-takut, orang yang sedang kita rendahkan di bumi ternyata sedang diangkat derajatnya di langit.

 

SC : H Dwy Sa’dullah Sidogiri

Editor : Tim

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *