Rabu, 24 Jun 2026

Misteri Pesan WA Yang Memicu Kegaduhan Suasana Munas-Konbes

admin
24 Jun 2026 10:48
3 menit membaca

Lenteraindonesia.id,-Kegaduhan yang mewarnai Sidang Pleno Munas dan Konbes di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri (22/6/2026) terkait penetapan Lokasi Muktamar ke-35 menarik perhatian banyak pihak.

Potongan video yang beredar sejak Senin (22/6/2026) siang telah diedit dan dibingkai sedemikian rupa, dengan dua tujuan utama: (1) mendiskreditkan Rais Aam PBNU sebagai “figure otoriter” karena mencabut keputusan sepihak dan tergesa-gesa oleh Pimpinan Sidang Pleno Munas-Konbes, dan (2) mendiskreditkan peserta yang protes sebagai tidak punya adab di hadapan masyayikh.

Tapi, potongan video itu terbantahkan jika kita simak rekaman utuh sesi pembacaan putusan Sidang Komisi Organisasi terkait usulan calon Lokasi Muktamar ke-35 oleh Prof. Dr. KH. Asrorun Ni’am Sholeh berikut ini.

Dalam rekaman video berdurasi 10 menit 11 detik ini, kita akan mendapatkan gambaran utuh tentang apa yang terjadi sebelum KH. Akhmad Said Asrori selaku Pimpinan Sidang Pleno men-“torpedo” putusan Sidang Komisi Organisasi dan memicu kegaduhan di akhir sesi.

Perhatikan dengan seksama video ini.
Di sela kerawuhan KH. Nurul Huda Jazuli ada seseorang dari sisi kanan panggung yang meminta KH Miftah Faqih untuk membuka HP. KH.Miftah Faqih pun menoleh ke kanan dan sesaat kemudian mengecek HP-nya. Sumber terpercaya menyebutkan, orang tersebut berinisial AAH (salah satu Katib Syuriyah PBNU).

Setelah itu, cermati apa yang terjadi sejak saat itu. Pada menit ke 03:28, KH.Miftah Faqih menunjukkan pesan WA kepada KH.Akhmad Said Asrori. Sejak pertama kali membaca pesan WA, yang tampak dalam rekaman adalah, keduanya sangat tegang dan lebih sibuk membahas pesan WA tersebut daripada mendengarkan paparan Prof. Asrorun Niam Sholeh.

Perhatikan lagi apa yang terjadi pada menit 07:02 sampai 07.12. Bahkan, ketika masih belum selesai mengucapkan kalimat _“Yang kedua, hari ini, pondok yang layak untuk Muktamar itu hanya Lirboyo…”,_ tangan kanan KH. Akhmad Said Asrori telah meraih palu dan siap mengetokkannya. Tampak sekali, upaya untuk melakukan _fait accompli_ putusan Sidang Pleno Munas-Konbes, karena tidak memberikan jeda kepada peserta untuk menyampaikan tanggapannya. Sekretaris SC yang mencoba mengingatkan dengan mengamankan palu sidang pun diabaikan.

Di situlah ketegangan mulai muncul.

Parahnya, argumentasi yang disampaikan oleh KH. Akhmad Said Asrori saat mengetok palu untuk kedua kalinya pada menit ke 07.45 pun melenceng dari argumentasi dan keputusan Sidang Komisi Organisasi yang telah dipaparkan oleh Prof. Dr. Asrorun Niam Sholeh.

Hal itu “dapat dipahami” (meski tidak dapat dibenarkan), karena patokan yang dipakai sepertinya Adalah pesan WA, bukan paparan yang disampaikan di Sidang Pleno.

Saat forum mulai gaduh, Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar kemudian maju dan naik ke panggung untuk menenangkan suasana, dengan menyampaikan penjelasan yang beliau terima dari Hasil Sidang Komisi Organisasi pada malam harinya.

Rais Aam menegaskan, hingga Ahad (21/6/2026) pukul 12 malam, laporan yang beliau terima adalah bahwa keputusan atas lima calon lokasi Muktamar dikembalikan kepada PBNU. Kemudian, Rais Aam pun mencabut keputusan sepihak KH. Akhmad Said Asrori.

Jadi, siapa yang sebenarnya otoriter dalam kasus ini? Katib Aam atau Rais Aam? Jawabannya jelas, Rais Aam hanya mengembalikan putusan Sidang Pleno dari pembajakan oleh KH. Akhmad Said Asrori selaku Pimpinan Sidang.

Pertanyaan berikutnya, apa isi pesan WA yang diterima KH. Miftah Faqih?

Siapa pengirim pesan yang membuat keduanya tampak sangat tegang?

Tampak jelas, keduanya sangat tegang, berbeda dengan dua orang di samping kanan dan kiri mereka yang tampak relaks dan tenang.

Sebagai penutup, perhatikan juga bahasa tubuh KH. Akhmad Said Asrori sesaat sebelum menyampaikan putusan sepihak soal lokasi Muktamar di menit 05:51. Kiai Said spontan mengelus hidungnya. Ini adalah pertanda psikologis bagi orang yang melakukan penyangkalan terhadap kebenaran.

 

Editor : Red

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *