Sabtu, 27 Jun 2026

๐…๐š๐ค๐ญ๐š ๐Œ๐ฎ๐ง๐š๐ฌ ๐๐”: ๐๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐“๐จ๐ฅ๐š๐ค ๐‹๐ข๐ซ๐›๐จ๐ฒ๐จ ๐ญ๐š๐ฉ๐ข ๐“๐จ๐ฅ๐š๐ค ๐Š๐ž๐ฉ๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฌ๐š๐ง ๐’๐ž๐ฉ๐ข๐ก๐š๐ค

admin
27 Jun 2026 09:01
4 menit membaca

Lenteraindonesia.id,- Kegaduhan yang tidak diinginkan saat Munas dan Konbes NU di Ploso murni berawal dari keputusan pribadi Katib Aam Syuriyah PBNU, KH. Said Asrori. Secara sepihak, beliau memutuskan bahwa Muktamar akan diselenggarakan di PP. Lirboyo. Tampak beliau terburu-buru mengetuk palu sidang tanpa memberikan kesempatan kepada peserta Munas untuk menanggapi.

โ€‹Akibat tindakan tersebut, ada dua tokoh yang namanya ikut tercemar di media sosial. Pertama, Bapak Mohammad Nuh, yang dikesankan oleh netizen seolah-olah ingin merebut mikrofon. Kedua, Rais Aam Syuriyah kita, KH. Miftachul Akhyar, yang dikesankan bersikap otoriter karena membatalkan ketukan palu KH. Said Asrori. Sementara itu, perilaku dua komisaris BUMN yang sempat viral sengaja tidak saya bahas, karena sikap mereka dinilai terlalu memalukan di mata warga Nahdliyin.

โ€‹Mari kita cermati kembali transkrip pernyataan KH. Said Asrori berikut:
โ€‹”Yang penting kami sampaikan di sini bahwa Muktamar yang akan datang, yang sudah diputus di rapat pleno, adalah tanggal dan bulan, yaitu tanggal 1 sampai tanggal 5 bulan Agustus. Untuk tempat, nyuwun sewu (mohon maaf), akan saya sampaikan di sini. Satu, keputusan Munas dan Konbes harus di pondok pesantren yang ada santrinya. Tidak di pondok pesantren yang tidak ada santrinyaโ€”seperti Pondok Gede yang tidak ada santrinya meski namanya ‘pondok’, atau Pondok Cabe, Pondok Rambutan, dan lain-lain. Ini penting kami sampaikan di sini, ini keputusan pleno.
โ€‹Yang kedua, kenapa harus di pondok? Kita sudah mendengarkan dawuh (arahan) masyayikh kita. Alhamdulillah di sini rawuh (hadir) KH. Nurul Huda Jazuli dan KH. Anwar Manshur. Ini sesepuh kita semua, warga NU dan umat NU. Yang ketiga, saya ingat dawuh-nya KH. Nurul Huda Jazuli kepada Ketum waktu beliau sowan. Satu, harus di pondok. Yang kedua, hari ini pondok yang layak untuk Muktamar itu hanya Lirboyo. Setuju?”

โ€‹Seketika itu juga, beliau langsung mengetuk palu.

โ€‹Tepat setelah momen inilah kegaduhan mulai muncul. Rais Aam kemudian berdiri untuk menenangkan suasana dan memberikan arahan (dawuh):
โ€‹”Tadi malam saya sampai jam 12 bertanya tentang keputusan di mana tempat Muktamar. Dijawab, dikembalikan kepada PBNU. Saya kaget karena ini sebenarnya haknya PW (Pengurus Wilayah). Selama ini PWNU yang menentukan tempat Muktamar. Namun karena itu sudah telanjur menjadi keputusan pleno, maka dikembalikan kepada PBNU. Lha, di sini kok tiba-tiba ada keputusan? Maka saya selaku Rais Aam punya hak untuk membatalkan putusan ini.”
โ€‹
โ€‹Dari ulasan panjang di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa poin penting:
โ€‹Pertama, hasil komisi organisasi sebenarnya memutuskan lima lokasi sebagai calon tuan rumah Muktamar yang perlu disurvei terlebih dahulu sebelum ditetapkan salah satunya.

โ€‹Kedua, KH. Said Asrori sendiri mengakui bahwa rapat pleno hanya menentukan tanggal dan bulan pelaksanaan, bukan memutuskan tempat.

โ€‹Ketiga, KH. Said Asrori secara tiba-tiba mengambil langkah sepihak dengan langsung menunjuk Lirboyo sebagai lokasi.

โ€‹Keempat, Bapak Mohammad Nuh yang berada tepat di samping KH. Said Asrori dan Rais Aam tampak terkejut dengan keputusan spontan tersebut. Hal ini memperkuat bukti bahwa pernyataan KH. Said Asrori tidak didasarkan pada hasil musyawarah forum.

โ€‹Kelima, pada dasarnya Rais Aam tidak bermaksud asal mencabut ketukan palu, melainkan meluruskan kembali keputusan agar tetap berjalan sesuai dengan mekanisme musyawarah yang sah.

โ€‹Keenam, penolakan terhadap momentum tersebut jangan diartikan sebagai penolakan terhadap pesantren Lirboyo, melainkan bentuk protes atas keputusan KH. Said Asrori yang diambil tanpa musyawarah resmi (mungkin hanya berdasarkan musyawarah kelompoknya sendiri).

โ€‹Ketujuh, pihak-pihak yang menyalahkan Rais Aamโ€”termasuk seorang kiai yang sampai membuat story WhatsApp dan menyindir Rais Aam dengan sebutan “Pak Tua”โ€”dinilai terlalu berlebihan dan perlu meminta maaf kepada Rais Amm.

โ€‹Kedelapan dan seterusnya, silakan Anda simpulkan sendiri secara bebas.

Tulisan pendek ini berdasarkan pengamatan saya terhadap video sidang pleno mulai dari pemaparan KH. Asroun Niam, KH. Said Asrori hingga Rais Amm. Tanpa edit atap cropping dari pihak yang berkepentingan. Jika ada informasi pembanding, mohon disampaikan di kolom komentar.

 

Editor : Shohe

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *