
Lenteraindonesia.id || PROBOLINGGO,- 3 Juni 2026* – Riuh rendah suara interupsi dan raut wajah penuh kekecewaan mewarnai Aula Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Probolinggo hari ini.
Agenda Rapat Pimpinan Paripurna Daerah (RAPIMPURDA) KNPI Kabupaten Probolinggo yang sejatinya menjadi panggung konsolidasi kaum muda, justru berujung antiklimaks setelah dinyatakan deadlock hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.
Alih-alih melahirkan gagasan strategis, forum tertinggi sebelum Musda ini justru lumpuh di tengah jalan akibat gelombang protes dari para peserta yang menganggap panitia pelaksana bertindak amatir.
Ketegangan mulai memuncak sejak menit-menit awal pleno dibuka. Mayoritas perwakilan organisasi kepemudaan (OKP) yang hadir mencium aroma ketidakberesan dalam tata kelola acara. Setidaknya, ada tiga rapor merah yang disematkan peserta kepada pihak penyelenggara:
Dokumen-dokumen krusial organisasi yang seharusnya menjadi acuan sidang ditemukan tidak lengkap dan penuh kekeliruan struktural.
Forum menilai panitia tidak memiliki cetak biru (blueprint) dan arah koordinasi yang matang, membuat jalannya persidangan kehilangan arah sejak awal.
Pemicu paling krusial adalah transparansi mengenai siapa saja yang berhak duduk sebagai peserta sah. Validasi dan verifikasi keterwakilan dinilai dimanipulasi dan tidak objektif.
“Kami datang ke sini membawa marwah organisasi, bukan untuk menonton pertunjukan yang tanpa persiapan. Konsepnya mentah, administrasinya berantakan, dan kepesertaannya tidak jelas. Ini cacat secara prosedural,” cetus salah satu tokoh pemuda di lokasi dengan nada tegang.
Melihat tensi forum yang terus meroket dan tidak lagi kondusif untuk bertukar pikiran, pimpinan sidang akhirnya memilih jalan penyelamatan organisasi dengan membekukan sementara jalannya Rapimda.
Palu sidang diketuk bukan untuk menghasilkan mufakat, melainkan sebagai tanda penundaan tanpa kepastian waktu, Hingga sore ini, sisa-sisa ketegangan masih terasa di area Disporapar.
Pihak DPD KNPI Kabupaten Probolinggo maupun panitia inti belum memberikan pernyataan resmi terkait evaluasi total maupun jadwal ulang atas kegagalan forum ini.
Kaum muda Probolinggo kini harus menunggu dalam ketidakpastian akibat sebuah agenda yang dipaksakan berjalan tanpa kesiapan.
Editor : Nasir
Tidak ada komentar