Sabtu, 17 Okt 2026

Polemik Desil di Surabaya, Cak Bram Desak Pemkot Tegas: Bansos dan Beasiswa Harus Berbasis Data Faktual

admin
17 Okt 2026 16:27
5 menit membaca

Lenteraindonesia.id || SURABAYA, – Polemik klasifikasi desil kesejahteraan masyarakat menjadi perhatian serius di Kota Surabaya. Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Nasionalis Nusantara Jawa Timur (DPW-PNN-JATIM), Slamet Pramono yang akrab disapa Cak Bram, mendesak Pemerintah Kota Surabaya bersikap tegas dan objektif dalam memastikan penyaluran bantuan sosial (bansos), beasiswa pendidikan, program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) atau bedah rumah, serta berbagai program intervensi sosial lainnya tepat sasaran.

Cak Bram menegaskan bahwa kebijakan bantuan lokal harus mempertimbangkan kondisi faktual masyarakat di lapangan. Klasifikasi desil sebagai instrumen pendataan kesejahteraan perlu digunakan secara proporsional dan tidak semestinya menjadi satu-satunya pertimbangan tanpa memperhatikan ketentuan masing-masing program serta kemungkinan ketidaksesuaian data warga.

Persoalan tersebut turut mengemuka dalam konsolidasi di wilayah Surabaya. Sejumlah warga menyampaikan keresahan kepada Cak Bram terkait pengelompokan tingkat kesejahteraan yang mereka nilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya.

Warga berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kemungkinan ketidaksesuaian data, terutama apabila kategori kesejahteraan yang tercatat tidak sejalan dengan keadaan kehidupan mereka. Mereka juga mengharapkan mekanisme verifikasi dan koreksi data yang jelas agar persoalan tersebut dapat ditangani secara objektif.

Menanggapi aspirasi tersebut, Cak Bram mendorong Pemkot Surabaya agar tidak bersikap pasif. Pemerintah daerah perlu mengambil langkah nyata melalui evaluasi data, verifikasi kondisi lapangan, dan penyusunan kebijakan bantuan yang transparan serta dapat dipertanggungjawabkan.

“Pemerintah Kota Surabaya harus hadir dengan kebijakan yang tegas, berkeadilan, dan berpihak pada kebutuhan riil masyarakat. Jangan sampai warga yang secara faktual masih mengalami kesulitan ekonomi justru terabaikan akibat ketidaksesuaian data. Desil harus disikapi secara proporsional, sementara kondisi nyata warga wajib diverifikasi agar bantuan sosial, beasiswa, dan program intervensi lainnya tepat sasaran serta dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Cak Bram dalam keterangannya, Sabtu (17/10/2026).

Cak Bram Minta Pemkot Surabaya Evaluasi Data Desil

Menurut Cak Bram, ketepatan data merupakan fondasi penting dalam menentukan kebijakan bantuan sosial. Data administratif tetap diperlukan, tetapi harus diimbangi pemutakhiran dan verifikasi berkala agar mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara akurat.

Apabila terdapat warga yang merasa klasifikasi kesejahteraannya tidak sesuai dengan keadaan ekonomi sebenarnya, Pemkot Surabaya perlu menyediakan mekanisme pengaduan, pemeriksaan, dan koreksi data yang mudah diakses.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa kejelasan penyelesaian. Pemerintah perlu memastikan setiap laporan masyarakat diperiksa berdasarkan bukti dan kondisi faktual, bukan sekadar diterima sebagai keluhan administratif.

Cak Bram juga menekankan bahwa evaluasi data harus dilaksanakan secara objektif dengan tetap memperhatikan kriteria penerima manfaat dan ketentuan yang berlaku pada setiap program bantuan.

Bansos, Beasiswa, dan Bedah Rumah Harus Tepat Sasaran

Cak Bram menyoroti pentingnya ketepatan sasaran dalam pelaksanaan bantuan sosial lokal, beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa, program Rutilahu atau bedah rumah, serta berbagai bentuk intervensi sosial lainnya.

Menurutnya, setiap program harus mempertimbangkan kebutuhan nyata masyarakat, persyaratan penerima manfaat, ketentuan yang berlaku, dan kemampuan fiskal Pemerintah Kota Surabaya.

Ia mendorong agar warga yang mengalami kesulitan ekonomi memperoleh kesempatan untuk mengajukan verifikasi apabila terdapat dugaan ketidaksesuaian data kesejahteraan. Penetapan penerima manfaat harus dilakukan secara objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Di sisi lain, kemampuan anggaran daerah tetap menjadi pertimbangan penting. Pemkot Surabaya perlu menetapkan skala prioritas yang terukur agar program bantuan dapat menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan sesuai kriteria masing-masing program.

Menurut Cak Bram: Perkuat Verifikasi, Buka Pengaduan, dan Benahi Data Warga

Untuk menjawab polemik desil, Cak Bram mendorong Pemkot Surabaya melakukan sejumlah langkah konkret agar kebijakan bantuan lebih akurat, transparan, dan berkeadilan.

Pertama, melakukan verifikasi faktual terhadap data yang dipersoalkan. Pemkot perlu memeriksa laporan warga yang merasa kondisi ekonominya tidak sesuai dengan klasifikasi kesejahteraan dalam sistem pendataan. Pemeriksaan harus dilakukan secara objektif dengan melibatkan perangkat wilayah sesuai kewenangannya.

Kedua, membuka mekanisme pengaduan dan koreksi data yang mudah diakses. Warga perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai tempat pengajuan, persyaratan dokumen, proses pemeriksaan, dan tindak lanjut laporan. Dengan demikian, masyarakat tidak dibiarkan menghadapi persoalan data tanpa kepastian prosedur.

Ketiga, memperkuat koordinasi antara perangkat wilayah dan instansi terkait. Pemerintah kota perlu memastikan informasi mengenai kondisi warga dapat diperiksa dan diperbarui melalui mekanisme pendataan yang berlaku, dengan tetap menjaga akuntabilitas serta perlindungan data pribadi.

Keempat, memastikan setiap program bantuan memiliki kriteria yang jelas. Bansos lokal, beasiswa, Rutilahu, dan program intervensi lainnya perlu disosialisasikan dengan transparan. Warga harus memahami persyaratan masing-masing program, termasuk bagaimana klasifikasi desil digunakan dalam penilaian kelayakan.

Kelima, menyusun prioritas anggaran berdasarkan kebutuhan dan kemampuan fiskal daerah. Apabila terdapat keterbatasan anggaran, Pemkot perlu menetapkan prioritas secara terukur, memastikan kelompok yang paling membutuhkan memperoleh perhatian sesuai ketentuan, serta mengevaluasi hasil pelaksanaan program.

Menurut Cak Bram, langkah-langkah tersebut penting agar persoalan desil tidak berhenti pada perdebatan mengenai klasifikasi statistik, tetapi ditindaklanjuti melalui pembenahan sistem pendataan dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

Cak Bram: Pemerintah Harus Hadir dengan Kebijakan yang Berkeadilan

Cak Bram menekankan bahwa masyarakat membutuhkan kepastian bahwa persoalan ketidaksesuaian data dapat diperiksa melalui mekanisme yang jelas. Pemerintah daerah harus berani mengevaluasi apabila ditemukan kekeliruan, sekaligus konsisten menerapkan persyaratan bantuan sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurutnya, data kesejahteraan harus menjadi instrumen untuk membantu pemerintah mengambil keputusan secara tepat. Karena itu, kualitas data tidak boleh diabaikan, sementara laporan warga perlu ditangani secara profesional dan tidak boleh langsung dianggap benar ataupun diabaikan tanpa pemeriksaan.

Ia juga menegaskan bahwa kebijakan bantuan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap anggaran publik. Penentuan penerima manfaat wajib mempertimbangkan kebutuhan riil, persyaratan program, hasil verifikasi, dan kemampuan keuangan daerah.

Cak Bram mendorong Pemkot Surabaya menjadikan polemik desil sebagai momentum pembenahan tata kelola bantuan sosial. Ketegasan pemerintah harus diwujudkan melalui data yang akurat, prosedur yang transparan, pelayanan pengaduan yang responsif, serta keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan langkah tersebut, Pemkot Surabaya diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan program bantuan benar-benar menjangkau warga yang memenuhi kriteria dan membutuhkan dukungan pemerintah.

 

Editor : Thur

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *