Lenteraindonesia.id || SURABAYA – Tujuh tahun telah berlalu sejak wafatnya almarhum Ustadz H. Sumarno Bin Trubus, pendiri Yayasan Majelis Al-Mubarok Surabaya. Namun, jejak perjuangan dan nilai-nilai dakwah yang diwariskannya terus dirawat oleh keluarga dan generasi penerusnya.
Hal tersebut tercermin dalam peringatan Haul ke-7 almarhum Ustadz H. Sumarno Bin Trubus yang digelar di Mabes Majelis Al-Mubarok, Jalan Simorejo Timur IX/24, Kelurahan Simomulyo, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya, Jumat (6/11/2026) ba’da Isya.
Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan. Selain menjadi momentum mendoakan almarhum, haul tersebut juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta mengenang perjuangan sosok yang telah meletakkan fondasi dakwah Islam melalui Yayasan Majelis Al-Mubarok Surabaya.
Hadir dalam kegiatan tersebut Gus Anas, Gus Barok (Moch. Fatkhi Mubarok) selaku Ketua Yayasan Majelis Al-Mubarok Surabaya sekaligus putra almarhum, serta Sayyid Maulana Shahriar.
GUS BAROK, AMANAH SANG AYAH MENJADI TANGGUNG JAWAB PERJUANGAN
Bagi Gus Barok, Haul ke-7 bukan sekadar peringatan untuk mengenang ayahanda tercinta. Momentum tersebut juga menjadi pengingat akan amanah besar untuk meneruskan perjuangan dan cita-cita dakwah yang telah dirintis almarhum.
Sebagai putra pendiri sekaligus Ketua Yayasan Majelis Al-Mubarok Surabaya, Gus Barok memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keberlangsungan perjuangan sang ayah, merawat lembaga yang telah dibangun, serta mempertahankan nilai-nilai keislaman yang menjadi landasan perjuangan keluarga besar Majelis Al-Mubarok.
Perjuangan seorang pendiri tidak semestinya berhenti ketika dirinya telah tiada. Justru generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar ilmu, akhlak, keikhlasan, dan pengabdian yang telah diwariskan tetap hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebab, warisan terbesar seorang pejuang dakwah bukan semata-mata bangunan atau lembaga yang ditinggalkan, melainkan ilmu yang terus diamalkan, nasihat yang senantiasa dikenang, serta amal kebaikan yang manfaatnya terus mengalir.
GUS ANAS: HAKIKAT SYUKUR BUKAN SEKADAR UCAPAN ALHAMDULILLAH
Dalam tausiah keagamaannya, Gus Anas mengangkat pembahasan mengenai pengertian syukur, hakikat syukur, serta tiga rukun syukur yang harus dipahami dan diamalkan setiap Muslim.
Ia mengingatkan bahwa setiap manusia diperintahkan Allah SWT untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan.
Menurutnya, syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah yang keluar dari lisan. Hakikat syukur harus diwujudkan melalui hati, lisan, dan anggota badan.
Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Luqman ayat 12:
“Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
Gus Anas menjelaskan bahwa syukur merupakan bentuk pengakuan dan pujian kepada Allah SWT atas seluruh nikmat yang diberikan kepada manusia.
Mengutip penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Majmu’ Al-Fatawa, syukur diwujudkan melalui tiga unsur utama, yakni hati, lisan, dan anggota badan.
Sementara itu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Thariq Al-Hijratain, hakikat syukur mencakup memuji Allah atas nikmat-Nya, mencintai nikmat tersebut, serta memanfaatkannya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
Dengan demikian, seseorang yang benar-benar bersyukur tidak hanya mengakui nikmat melalui hati dan memujinya dengan lisan, tetapi juga menggunakan seluruh nikmat tersebut untuk melakukan kebaikan dan ketaatan.
TIGA RUKUN SYUKUR YANG HARUS DIAMALKAN
Lebih lanjut, Gus Anas memaparkan tiga rukun syukur sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin.
Pertama, mengakui bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah SWT.
Setiap manusia harus menyadari bahwa kesehatan, rezeki, keluarga, ilmu, kesempatan hidup, dan segala sesuatu yang dimiliki merupakan pemberian Allah SWT. Tidak ada nikmat yang patut disombongkan karena semuanya merupakan karunia dari-Nya.
Kedua, memuji Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan.
Rasa syukur harus hadir dalam hati dan diwujudkan melalui lisan dengan senantiasa memuji, mengingat, serta mengagungkan kebesaran Allah SWT.
Ketiga, memanfaatkan nikmat untuk meraih rida Allah SWT melalui ketaatan.
Segala kemampuan, harta, waktu, jabatan, ilmu, dan kesempatan yang dimiliki hendaknya digunakan untuk kebaikan, ibadah, serta memberikan manfaat kepada sesama, bukan untuk melakukan kemaksiatan.
Gus Anas juga mengingatkan bahwa kemaksiatan bertentangan dengan hakikat syukur. Nikmat yang diberikan Allah seharusnya menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan justru digunakan untuk melakukan perbuatan yang dilarang.
NIKMAT ADALAH AMANAH, SYUKUR HARUS DIBUKTIKAN DENGAN AMAL
Pesan tausiah tersebut memberikan pengingat mendalam bahwa syukur bukan hanya persoalan ucapan, melainkan tanggung jawab manusia dalam menggunakan setiap nikmat yang diberikan Allah SWT.
Harta hendaknya digunakan untuk kebaikan, ilmu diamalkan untuk kemaslahatan, jabatan dijalankan dengan amanah, dan waktu dimanfaatkan untuk hal-hal yang membawa manfaat.
Seseorang yang memahami hakikat syukur akan menyadari bahwa setiap nikmat memiliki tanggung jawab. Semakin banyak nikmat yang diterima, semakin besar pula kesempatan untuk memperbanyak ibadah, melakukan kebaikan, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Melalui momentum Haul ke-7 ini, keluarga besar Yayasan Majelis Al-Mubarok Surabaya diharapkan semakin memperkuat komitmen dalam merawat tradisi keagamaan, menjaga persaudaraan, serta meneruskan perjuangan dakwah yang telah dirintis almarhum.
DOA BERSAMA DIPIMPIN GUS ZAINAL ABIDIN
Rangkaian kegiatan Haul ke-7 almarhum Ustadz H. Sumarno Bin Trubus ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Gus Zainal Abidin.
Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan mengiringi doa yang dipanjatkan bersama para jamaah. Doa tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus permohonan kepada Allah SWT agar almarhum mendapatkan ampunan, rahmat, dan tempat terbaik di sisi-Nya.
Penutupan dengan doa bersama tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh jamaah tentang pentingnya menjaga persaudaraan, memperkuat keimanan, serta meneruskan nilai-nilai perjuangan dan dakwah yang telah diwariskan almarhum.
TUJUH TAHUN BERLALU, JEJAK DAKWAH TETAP HIDUP
Tujuh tahun telah berlalu, tetapi keteladanan dan perjuangan almarhum Ustadz H. Sumarno Bin Trubus diharapkan tetap menjadi cahaya bagi generasi penerus Majelis Al-Mubarok.
Sebab, seorang ayah mungkin telah berpulang, tetapi perjuangannya tidak boleh ikut berhenti.
Ketika seorang anak meneruskan jalan kebaikan yang dirintis orang tuanya, di situlah cinta berubah menjadi pengabdian, kenangan menjelma menjadi perjuangan, dan warisan menjadi amal kebaikan yang terus hidup.
Al-Fatihah. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum Ustadz H. Sumarno Bin Trubus, mengampuni segala khilafnya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua agar menjadi hamba-hamba yang pandai bersyukur, istiqamah dalam beribadah, serta senantiasa menebarkan kebaikan kepada sesama.
Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Editor : Soim
Tidak ada komentar