
Lenteraindonesia.id || SURABAYA – Nama Slamet Pramono atau yang akrab disapa Cak Bram dikenal dalam sejumlah aktivitas jurnalistik dan organisasi. Kiprahnya tidak hanya berada di balik kerja-kerja pemberitaan, tetapi juga berkembang hingga pada pengelolaan media dan aktivitas politik organisasi.
Cak Bram tercatat sebagai Direktur Utama sekaligus Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI). Di sisi lain, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua DPW Partai Nasionalis Nusantara (PNN) Provinsi Jawa Timur.
Dua ruang pengabdian tersebut menjadi perjalanan yang tidak ringan. Dunia pers menuntut ketelitian, independensi dan tanggung jawab kepada publik. Sementara organisasi politik membutuhkan kemampuan membangun struktur, komunikasi, konsolidasi serta menjaga soliditas para pengurus dan kader.
Bagi Cak Bram, setiap amanah memiliki konsekuensi tanggung jawab.
Ia memandang profesi wartawan bukan sekadar pekerjaan untuk menghasilkan berita, tetapi bagian dari fungsi pelayanan kepada masyarakat. Wartawan dituntut mampu melihat persoalan secara kritis, melakukan verifikasi, meminta konfirmasi dan menyajikan informasi secara berimbang.
Dalam menjalankan aktivitas jurnalistik, Cak Bram mengenalkan prinsip yang ia sebut sebagai ATM: Awasi, Tiru dan Modifikasi.
Menurutnya, “Awasi” berarti memiliki kepekaan terhadap berbagai peristiwa dan fakta di lapangan. Seorang wartawan harus mampu melihat persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, kemudian menguji informasi tersebut melalui proses verifikasi.
Sementara “Tiru” bukan berarti melakukan plagiarisme. Prinsip tersebut lebih dimaknai sebagai proses belajar dari metode kerja jurnalistik yang baik, termasuk bagaimana melakukan peliputan, menggali informasi, melakukan wawancara serta menyusun berita secara profesional.
Sedangkan “Modifikasi” merupakan tahap mengembangkan informasi menjadi karya jurnalistik yang memiliki nilai tambah. Fakta tidak sekadar disajikan kembali, tetapi dapat diperdalam melalui sumber tambahan, dokumen, data maupun konteks persoalan.
Namun, prinsip tersebut tetap harus berjalan dalam koridor Kode Etik Jurnalistik. Verifikasi, keberimbangan, independensi dan tanggung jawab kepada publik tetap menjadi bagian penting dalam kerja pers.
Membangun Media dengan Disiplin Redaksi
Sebagai Direktur Utama sekaligus Pemimpin Redaksi MSRI, Cak Bram juga menghadapi tantangan dalam mengelola media di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
Media tidak cukup hanya cepat dalam menyampaikan informasi. Akurasi dan kredibilitas menjadi modal utama untuk mendapatkan kepercayaan pembaca.
MSRI membawa identitas “Perspektif • Akurat • Terpercaya” sebagai bagian dari semangat membangun media yang memiliki karakter dan tanggung jawab jurnalistik.
Menurut Cak Bram, pengelolaan media membutuhkan kedisiplinan redaksi, komunikasi yang baik serta proses pemeriksaan informasi sebelum berita dipublikasikan.
Hal tersebut menjadi penting di tengah derasnya arus informasi digital yang membuat masyarakat dapat menerima berbagai informasi dalam waktu sangat cepat.
Dari Ruang Redaksi ke Organisasi Politik
Perjalanan Cak Bram kemudian memasuki ruang yang berbeda ketika ia dipercaya memimpin DPW PNN Jawa Timur.
Perpindahan ruang aktivitas dari dunia jurnalistik menuju organisasi politik membawa tantangan tersendiri.
Sebagai Ketua DPW PNN Jawa Timur, perhatian Cak Bram diarahkan pada penguatan struktur organisasi, administrasi, pendataan anggota, kaderisasi, pendidikan politik serta komunikasi publik.
Penguatan organisasi dinilai menjadi fondasi penting bagi partai yang sedang membangun eksistensi dan mempersiapkan diri menghadapi dinamika politik menuju 2029.
Baginya, organisasi tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan figur. Diperlukan struktur yang jelas, pembagian tugas, komunikasi antarpengurus dan kerja kolektif.
Di tengah dua dunia yang dijalani tersebut, Cak Bram juga menyadari adanya batas yang harus dijaga. Peran sebagai pengelola media dan peran sebagai pimpinan organisasi politik harus ditempatkan secara proporsional.
Independensi jurnalistik tetap harus dihormati, sementara aktivitas politik dijalankan dalam kapasitasnya sebagai bagian dari organisasi.
Amanah, Persaudaraan dan Kepedulian Sosial
Di balik aktivitasnya sebagai wartawan, pemimpin media dan pimpinan organisasi politik, Cak Bram menempatkan sejumlah nilai sebagai pegangan, di antaranya amanah, kejujuran, persaudaraan dan tanggung jawab.
Ia juga menekankan pentingnya kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Baginya, keberhasilan tidak selalu harus diukur dari seberapa banyak materi yang dimiliki seseorang. Ada nilai lain yang tidak kalah penting, yakni rasa cukup, kebermanfaatan dan kemampuan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Prinsip tersebut sejalan dengan pandangannya bahwa seseorang tidak harus selalu menjadi kaya untuk disebut berhasil.
“Tidak selalu kaya, tetapi cukup,” menjadi salah satu gambaran sederhana tentang cara pandangnya dalam menjalani kehidupan.
Perjalanan Cak Bram dari dunia jurnalistik, pengelolaan media hingga organisasi politik menunjukkan sebuah proses panjang dalam mengemban tanggung jawab.
Dunia pers mengajarkannya tentang pentingnya fakta dan keberimbangan. Pengelolaan media menuntut konsistensi dan disiplin. Sementara organisasi politik mengharuskannya membangun kerja kolektif dan struktur yang kuat.
Pada akhirnya, perjalanan tersebut bukan hanya tentang jabatan, tetapi bagaimana sebuah amanah dijalankan dengan integritas, konsistensi dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Editor : Tim
Tidak ada komentar