
Lenteraindonesia.id,- Penasihat Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jakarta, KH Mukti Ali Qusyairi, menyayangkan maraknya kritik bernada negatif hingga perundungan terhadap Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, di media sosial menjelang Muktamar ke-35 NU. Yang lebih memprihatinkan, suara-suara negatif itu justru banyak datang dari kalangan internal Nahdliyin sendiri, bukan semata-mata dari pihak di luar NU.
“Sedih sekali kalau sosok Rais Aam PBNU dibully oleh netizen. Tone-nya negatif, bahkan kekuatan videonya juga menunjukkan hal yang sama. Yang menyedihkan, mereka yang melakukan bully itu bukan orang di luar NU, melainkan orang NU sendiri,” ujar KH Mukti dalam acara Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU dengan tema Mencari Sosok Ideal Rais Aam PBNU di Kafe Trisnoku, Jakarta, Senin (24/8).
KH Mukti menilai fenomena ini perlu dibaca sebagai gejala delegitimasi sosial terhadap kepemimpinan organisasi. Menurutnya, aspirasi warga Nahdliyin saat ini dapat dilihat secara terbuka melalui percakapan dan komentar di media sosial. “Kalau seandainya PCNU dan PWNU mendengarkan aspirasi warga Nahdliyin, cukup melihat bagaimana komentar-komentar warga Nahdliyin di media sosial. Bahkan, diskusi-diskusi mengenai hal ini juga ramai,” terangnya.
Ia menegaskan, PWNU dan PCNU sebagai struktur organisasi yang berada dekat dengan warga Nahdliyin semestinya mampu menangkap aspirasi tersebut secara objektif. Dinamika yang berkembang di akar rumput menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan arah kepemimpinan NU ke depan. Selain itu, KH Mukti juga mengingatkan agar PWNU dan PCNU tidak menggadaikan NU dengan uang. Ia mengkritik fenomena pemberian uang transportasi yang dinilai sebagai bentuk transaksi yang mengancam marwah organisasi.
Pernyataan KH Mukti ini menambah daftar panjang sorotan tajam dari berbagai kalangan terhadap dinamika menjelang Muktamar NU ke-35, di mana isu politik uang dan pengondisian suara menjadi perhatian utama para kiai dan warga Nahdliyin.
Editor : Shohe
Tidak ada komentar