Senin, 11 Mei 2026

PII Jatim Tanam 3.000 Mangrove Sebagai Manifestasi Budaya Pembangunan Berkelanjutan

admin
11 Mei 2026 02:19
2 menit membaca

Lenteraindonesia.id || SURABAYA,- Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur melakukan redefinisi peran profesi insinyur dalam pembangunan bangsa. Bertepatan dengan momentum Musyawarah Wilayah (Muswil) PII Jatim di Malang 10 Mei 2024 kemarin, PII bersama konsorsium Penyelenggara Program Pendidikan Profesi Insinyur Indonesia (PSPPI) melakukan aksi nyata penanaman 3.000 bibit mangrove di kawasan pesisir Sontoh Laut, Surabaya Barat, bersama sama lembaga kemasyaraktan, ormas dan Terminal Petikemas Surabaya, Minggu (10/5).

Kegiatan ini melibatkan sinergi akademis dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Universitas Kristen Petra.

Aksi ini bukan sekadar seremoni lingkungan, melainkan penegasan bahwa insinyur adalah pencipta teknologi yang menjadi fondasi pembangunan budaya bangsa. Dalam pandangan PII Jatim, menjaga kelestarian alam bukan lagi sekadar kewajiban tambahan, melainkan “budaya kerja” yang harus terintegrasi dalam setiap detak pembangunan infrastruktur dan teknologi.

“Insinyur adalah kreator peradaban. Kita tidak hanya merancang beton dan baja, tetapi menciptakan teknologi yang membentuk budaya bangsa. Menjaga alam adalah nilai luhur dan budaya yang wajib melekat dalam setiap inovasi yang kita hasilkan,” tegas Ir. Gentur Prihantono selaku ketua PII Jawa Timur di lokasi Kongres PII Jawa Timur yang mengamanatkanya kembali memimpin PII Jawa Timur hingga 2029.

Pemilihan lokasi di pesisir Sontoh Laut, yang merupakan bagian dari ekosistem Teluk Lamong, memiliki urgensi data yang kuat. Berdasarkan data terkini, luas hutan mangrove di kawasan Teluk Lamong mencakup sekitar 400 hingga 500 hektar, yang tersebar di wilayah pesisir Surabaya Barat hingga perbatasan Gresik. Sebaran ini menjadi sabuk hijau (green belt) krusial yang melindungi daratan dari intrusi air laut dan abrasi, sekaligus menjadi penyangga bagi kawasan pelabuhan modern dan industri di sekitarnya.

Penanaman 3.000 mangrove ini diharapkan mampu memperkuat kerapatan vegetasi di titik-titik kritis Teluk Lamong. Bagi konsorsium universitas (ITS, Unesa, UK Petra, dan Widya Mandala), keterlibatan ini merupakan aplikasi nyata dari kurikulum profesi insinyur yang berorientasi pada etika lingkungan.

“Teknologi yang kita ciptakan hari ini akan menjadi warisan budaya bagi generasi mendatang. Jika kita membangun tanpa budaya menjaga alam, maka kita sedang menghancurkan masa depan peradaban itu sendiri,” tambah salah satu akademisi dari konsorsium PSPPI – Universitas Katolik Widya Mandala.

Melalui aksi ini, PII Jawa Timur ingin memberikan pesan kuat kepada publik bahwa profesionalisme keinsinyuran di Indonesia kini bergerak menuju era baru: era di mana kecanggihan teknologi mendorong dan berpadu selaras dengan kearifan ekologis sebagai identitas budaya pembangunan nasional.

 

Editor : Tim

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *