Kamis, 16 Apr 2026

Kirim Doa Tahlil Kubro Digelar di Petemon, KH Suudi Sulaiman Tekankan Doa Anak dan Persiapan Ramadhan

admin
8 Feb 2026 14:17
3 menit membaca

LenteraIndonesia.id || SURABAYA — Warga Jalan Raya Petemon 4, Kelurahan Sawahan, menggelar kegiatan Kirim Doa Tahlil Kubro pada Minggu (8/2/2026) mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai. Kegiatan berlangsung khidmat dan diikuti masyarakat sekitar sebagai bentuk doa bersama bagi para almarhum dan almarhumah.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan tawasul, pembacaan Surah Yasin, tahlil, serta sambutan. Acara pertama dibuka dengan pengajian yang diisi oleh KH. Drs. Suudi Sulaiman.

Dalam tausiyahnya, KH Suudi Sulaiman mengingatkan jamaah tentang hakikat kehidupan dan kematian. Ia menegaskan bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian dan kembali menghadap Allah SWT.

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian dan kembali di hadapan Allah SWT,” tuturnya.

Ia mengajak jamaah merenungkan apa yang seharusnya dilakukan ketika ada saudara atau keluarga yang mendahului wafat. Menurutnya, harapan terbesar seorang mayit adalah doa-doa dari anak dan keluarganya.

Doa yang paling dinantikan oleh almarhum dan almarhumah orang tua adalah doa dari anak-anak yang saleh dan salehah,” jelasnya.

KH Suudi juga menegaskan bahwa meskipun tidak sempat datang ke makam orang tua atau keluarga, umat Islam tetap dianjurkan untuk memohonkan ampunan setiap selesai salat. Jika memungkinkan, makam orang tua atau keluarga hendaknya dibersihkan dan didoakan sebagai wujud bakti.

Dalam penyampaiannya, KH Suudi Sulaiman juga mengingatkan tentang kedudukan tiga golongan orang tua yang wajib dihormati dan didoakan, yaitu:

1. Orang tua yang melahirkan kita
2. Mertua
3. Guru

Selain membahas doa dan bakti kepada orang tua, KH Suudi turut menyampaikan materi menjelang bulan suci Ramadhan, dengan mengulas Surat Al-Baqarah ayat 183–187 sebagai dasar hukum puasa.

Ia menjelaskan bahwa Al-Baqarah ayat 183 menegaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman agar mencapai derajat takwa.

Ayat 184 menerangkan keringanan bagi orang sakit dan musafir untuk mengganti puasa di hari lain, serta kewajiban fidyah bagi yang tidak mampu menjalankannya.

Sementara ayat 185 menegaskan bahwa puasa dilaksanakan pada bulan Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Qur’an, dan Allah menghendaki kemudahan, bukan kesulitan, bagi umat-Nya.

Adapun Al-Baqarah ayat 187 menjelaskan batas waktu puasa, yaitu dari terbit fajar hingga terbenam matahari (Maghrib), serta diperbolehkannya makan, minum, dan hubungan suami istri pada malam hari selama bulan puasa.

KH Suudi Sulaiman juga menyampaikan bahwa terdapat dua sunnah utama dalam puasa Ramadhan, yaitu:

1. Menyegerakan berbuka puasa setelah masuk waktu Maghrib, meskipun hanya dengan seteguk air atau sebutir kurma.

2. Mengakhirkan sahur, yakni makan sahur mendekati waktu Subuh agar memperoleh keberkahan.

Ia menegaskan bahwa istilah takjil yang sering digunakan di masyarakat pada hakikatnya bermakna mempercepat berbuka puasa, bukan sekadar makanan pembuka.

Selain dua sunnah utama tersebut, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amal kebaikan selama Ramadhan, seperti memberi makan orang berbuka, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak sedekah.

Kegiatan Kirim Doa Tahlil Kubro ini diharapkan dapat mempererat ukhuwah islamiyah sekaligus menumbuhkan kesadaran umat akan pentingnya doa, bakti kepada orang tua, dan kesiapan menyambut bulan suci Ramadhan dengan amal saleh.

 

Editor : Tim

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *